| Ilustrasi: unsplash.com |
Oleh: dopamemi
Hujan mulai membasahi di jendela saat Daren mulai menerka-nerka, pasti ada yang sedang sedih hari ini. Sejak beberapa waktu lalu, ia menetapkan langit dan berbagai konspirasi uniknya bukanlah sebagai teori-teori klasik. Melainkan adanya perasaan pada cerita miliknya yang harus usai sebelum waktunya.
Daren harus menunjukan senyum termanis saat menyadari mentari bersinar begitu cerah hari ini. Pertanda segalanya akan baik-baik saja. Termasuk dirinya, Cahaya. Hari-hari terasa begitu cepat berlalu tanpa terasa. Begitu juga saat sedang haha hehe dengan teman dekat, tidak dekat, agak dekat, dan apalah namanya.
Kumpulan tanggal yang tertata pada sudut meja tak pernah absen ia beri coretan lingkaran. Benda tersayang yang ia dapat dari si kesayangan, pada masanya. Mungkin hingga saat ini. Mungkin.
Waktu itu, pagi hari, entah sihir dari mana Daren mengarahkan kakinya pada rak tempat menyimpan ember berisi pakaian kotor. Menyadari sudah menjadi tumpukan, ia berniat mencucinya. Tak sendiri, ada Raissa Anggiani dalam album yang menemani Daren mencuci. Suasana hati layaknya keadaan langit. Cerah dan mempesona. Sinar tampak malu-malu menyusup di balik jendela tanpa tirai penuh.
Saatnya pakaian basah ini dijemur, waktu yang tepat bukan? Tempatnya Adalah balkon. Disitu ia biasa melakukan banyak hal ditemani hangat cahaya. Tapi, secara tiba-tiba langit berangsur muram dan tampangnya menjadi begitu kalbu. Bagaimana bisa? Beginikah konspirasi yang sebenarnya? Pesimis mulai menyapa pikirannya.
“Apakah baju ku akan kering semua, gawat ini...” Gelisah Daren. Kira-kira itu pukul 10 pagi. Pupus sudah harapannya akan menghemat biaya laundry kali ini. Langit mengirim sinyal yang sungguh tak diinginkan olehnya. Ini yang menarik Daren menuju Jane, masih pada tempatnya di sudut meja kamar. Kalender itu lagi. Artefak yang benar-benar disayangi. Ia segera meraih bolpoin dan menandai tanggal hari ini. Memberi jejak permanen terkait tanggal pengeluarannya menuju laundry.
Bahkan hal sekecil itu saja harus dicatat, betapa detail hidupnya belakangan ini. Dan, benar sekali. Laundry apartemennya sedang tutup. Oh no. “Apakah ada laundry baru dekat sini?” Ujar Daren tidak menyerah untuk mengeringkan pakaiannya. Pertanyaan tersebut ida lemparkan kepada tetangga kamar sebelah kirinya, 102.
Kemudian, Daren membawa pakaian basah itu dalam ember sekaligus dan menuruni apartemen dengan kotak besi otomatis, lift. Duh malunya. Syukurlah hujan masih belum turun begitu derasnya. Ember tersebut dimasukan ke dalam mobil miliknya. Daren membelinya dengan nabung mati-matian. Pedal gas diinjak, lalu menuju laundry baru yang disebut-sebut tetangganya. “Aduh, langit kenapa begitu kusut? Cahayaku mungkin sedang terpuruk dan tak ada aku disana...” Monolog Daren dalam hati sepanjang jalan. Tidak sampai 10 menit ternyata, wah dekat sekali. Di kota yang luas ini, sulit menemukan lokasi strategis seperti ini. Laundry terdekat yang pernah ada! Setelah yang di apart sana.
Laundry ini menyediakan sistem mencuci sendiri. Dilengkapi 10 fasilitas mesin cuci bertingkat, beserta pengeringnya. Segera daren menempati posisi pengering terdekat, pada sudut ruangan di hadapan pintu masuk.
“Dimana kakak-kakaknya ya? Mengapa begitu sepi?” Tanya Daren dengan suara yang begitu kecil. Sangat kecil, hanya ia yang dapat mendengarnya. Meski Daren tahu ini adalah loundry mandiri, membutuhkan kejujuran disana./
Langit kembali cerah, saat Daren selesai mengeringkan dan hendak membayar tagihannya. Daren mulai mengutuk dirinya untuk tidak menyesal telah memutuskan untuk pergi ke laundry, padahal bisa saja jika Daren sedikit bersabar menunggu datangnya kabar baik ini.
“Permisi, ada yang bisa saya bantu?” Sapa karyawan disitu dengan ramah kepada Daren yang saat ini terlihat seperti orang gangguan jiwa yang terlepas sebagaimana mestinya.
Tapi, sebentar
Apakah itu benar-benar karyawannya? Mengapa terdengar tidak begitu asing? Sungguh tampak familiar. Dan ketika Daren berbalik, ia ter-gagu. Mata itu, bukankah seperti tatap yang ia temui terakhir kali adalah... satu tahun yang lalu? Juga kharisma yang sungguh mengesankan, sialnya masih sama seperti dulu, semuanya. Tak banyak berubah.
Aroma manis vanilla menyeruak dari raganya, mengalahkan wangi laundry yang khas disini. Label “owner” pada sisi kiri bajunya menyita perhatian Daren. Semua indah, dan ia terpaku menatap segalanya tentang itu. Sejenak, dua jenak, dan seterusnya.
Hingga..
Cahaya, seorang wanodya rapuh menangis pada sisi Braga malam hari. Ia tak menghiraukan hujan turun begitu deras mengenai tubuhnya. Kehadiran sunyi Daren membuatnya luluh. Ia berteduh dan berusaha menjadi penuh bersama Daren.
Sudah lebih dari dua tahun sejak kali pertama mereka bertemu pada jalan bersejarah itu. Jalan yang menjadi saksi bahwa ada kisah yang tidak pernah memulai namun harus selesai. Masa-masa begitu indah jika bersama. Wajah yang dahulu ia pandang setiap hari, bahkan air matapun ditepisnya, pipi berisi Cahaya menjadi sasaran cubit Dareh. Kini terasa jauh. Segalanya menjadi semakin nyata, yakni jauh. Begitu jauh.
Hari-harinya diliputi mendung, namun Daren membawa secercah harapan berupa pelangi. Sanggup menghibur lubang-lubang kecil dalam lubuk hati Cahaya. Begitupun sebaliknya, mereka begitu serasi untuk tidak saling memiliki.
Satu tahun lamanya Cahaya benar-benar merasa penuh bercahaya. Daren sendiri merasa tepat untuk menaruh pelanginya. Namun hari itu, atas dasar kerelaan, mereka harus mengakhiri segala yang tidak mereka mulai sejak awal. Kedewasaan dalam menghadapi persoalan yang begitu tinggi tembok menjulang adalah ikhlas dan rela, bukan dengan menerobos ke dalamnya sehingga tercipta pula luka yang lebih dalam.
Cinta yang dimiliki harus berani dilepas untuk tumbuh, semakin berkembang dan menjadi nyata sebagai semangat dan motivasi hidup. Bukan digenggam sehingga merasa sesak dan sakit. Mereka rela untuk mengukir luka sebelum menyelam terlalu dalam. Hanya pada prolognya saja, kita harus usai.
Cahaya, mengapa rasa ini masih saja... Satu tahun semenjak hari selesainya kita, tak terbayang bahwa hari ini [pun akan datang. Melihatmu menjadi terbaik dalam versinya sendiri, tanpaku. Getaran dalam hatinya masih sama. Irama yang menggebu tak teratur. Masihkah semesta memberi kesempatan pada mereka? Setelah 365 hari tidak berjumpa meski tinggal di kota yang sama. Negara yang sama. Bumi yang sama.
Waktu itu, dunia seakan menarik kita pada misi yang berbeda, lain halnya pada hari ini. Seperti memberi harapan yang sangat amat tidak diinginkan keduanya.Mengingatnya saja membuat hati retak dan hancur,
“Apa kabar kak Ren?” Ujar Cahaya lebih dulu.
Manis sekali percakapan awal mereka. Bagaimana ujung cerita mereka? Akankah harus ada rela kedua, ketiga, dan kesekian? Atau rasa rela itu akan memudar perlahan? Atau justru semakin kuat.
Pelangi menyapa mereka dengan sinar matahari di sebelahnya. Romantis sekali, namun bukan kisahnya. Daren hanya menjawab “Baik, Bagaimana kamu, dek Ya?” tatapnya menyiratkan kerinduan mendalam. Hingga Cahaya menjawab “Syukurlah Terima Kasih telah datang di bisnis pertamaku ya, kak!” Ucapnya tulus.
Lalu Daren mulai mengontrol diri, tak lagi begitu gugup. “Mimpi yang kamu nantikan, dan sudah kamu buktikan! Semangat terus ya, aku tau loundry ini dari teman apart”
“Oh, si Hendra? Kok bisa?!” Bahkan Cahaya masih mengingat tetangga sejatinya Daren.
“Keajaiban takdir, dek. Lihat, langit pun ikut cerah sekarang” Alih Daren.
Mereka akhirnya menikmati pesona langit yang menjadi konspirasi kesukaan Daren untuk sekedar menerka keadaan Cahaya. Ternyata Cahaya sendiri melakukan hal yang sama.
“Kak, masih bareng Jane kah?” Tanya Cahaya. Dijawab oleh Daren, “Tentu, aku nggak akan bisa membuang artefak itu HAHA” candanya. Disambung Cahaya, “Ternyata ada gunanya juga aku ngasi Kalender”.
Terimakasih telah hadir dan mampir meski tak tinggal. Mereka hanya insan yang dipertemukan untuk saling belajar memahami, bukan untuk pasangan yang saling memiliki.
Wonosari, 18 Februari 2026
Comments